BUDIDAYA TANAMAN SAYURAN KANGKUNG ( Ipomoea reptans )

PANDUAN BUDIDAYA TANAMAN SAYURAN
KANGKUNG ( Ipomoea reptans )

I. UMUM
1.1. Sejarah Singkat
Kangkung tergolong sayur yang sangat populer, karena banyak peminatnya. Kangkung disebut juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach. Berasal dari India yang kemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China Selatan Australia dan bagian negara Afrika.

1.2. Jenis Tanaman
Kangkung termasuk suku Convolvulaceae (keluarga kangkung-kangkungan). Kedudukan tanaman kangkung dalam sistematika tumbuh-tumbuhan diklasifikasikan ke dalam:
a) Divisio : Spermatophyta
b) Sub-divisio : Angiospermae
c) Kelas : Dicotyledonae
d) Famili : Convolvulaceae
e) Genus : Ipomoea
f) Species : Ipomoea reptans

Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh cepat yang memberikan hasil dalam waktu 23 – 25 hari setelah tanam. Kangkung yang dikenal dengan nama Latin Ipomoea reptans terdiri dari 2 (dua) varietas, yaitu Kangkung Darat yang disebut Kangkung Cina dan Kangkung Air yang tumbuh secara alami di sawah, rawa atau parit-parit.
Perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air:
Warna bunga.
Kangkung air berbunga putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat bunga putih bersih.
Bentuk daun dan batang.
Kangkung air berbatang dan berdaun lebih besar dari pada kangkung darat. Warna batang berbeda. Kangkung air berbatang hijau, sedangkan kangkung darat putih kehijau-hijauan.
Kebiasaan berbiji.
Kangkung darat lebih banyak berbiji dari pada kangkung air. Itu sebabnya kangkung darat diperbanyak lewat biji, sedangkan kangkung air dengan stek pucuk batang.

1.3. Manfaat Tanaman
Bagian tanaman kangkung yang paling penting adalah batang muda dan pucuk-pucuknya sebagai bahan sayur-mayur. Kangkung selain rasanya enak juga memiliki kandungan gizi cukup tinggi, mengandung vitamin A, B dan vitamin C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan.
Disamping itu hewan juga menyukai kangkung bila dicampur dalam makanan ayam, itik, sapi, kelinci dan babi.
Seorang pakar kesehatan Filipina: Herminia de Guzman Ladion memasukkan kangkung dalam kelompok “Tanaman Penyembuh Ajaib”, sebab berkhasiat untuk penyembuh penyakit “sembelit” juga sebagai obat yang sedang “diet”. Selain itu, akar kangkung berguna untuk obat penyakit “wasir”

II. SYARAT PERTUMBUHAN / LOKASI PENGEMBANGAN
2.1. Iklim
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin
Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun. Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat dan subur, asalkan di sekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput, kebun/ladang yang agak rimbun.
Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen.
Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen.
2.2. Media Tanam
Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah.
Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air.
Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air secara baik.
2.3. Ketinggian Tempat
Kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama asal jangan dicampur aduk.

III. KEBUTUHAN BENIH / BIBIT
Untuk lebih fokus, khusus pada bab ini hanya akan membahas tentang bercocok tanam kangkung darat.
Dalam pemilihan bibit harus disesuaikan dengan lahan (air atau darat). Karena kalau kangkung darat ditanam di lahan untuk kangkung air produksinya kurang baik, warna daun menguning, bentuk kecil dan cepat membusuk.
3.1. Penyiapan Benih
a) Untuk benih dari biji kangkung diambil dari tanaman yang tua.
b) Benih yang diperlukan untuk seluas 120 m2 atau ukuran bedengan 4 x 30m, lebih kurang 2 Kg, tiap lubang diisi 3-4 butir biji.
c) Kebutuhan benih per hektar adalah 160 Kg.

IV. JUMLAH SAPRODI PER HEKTAR
Untuk kebutuhan Saprodi pada tanaman Kangkung yang selalu dilaksanakan oleh petani adalah :
Untuk bedengan ukuran 4 x 30m (120m2)
-Benih Kangkung : 2 Kg = 160 Kg/ha
-Pupuk kandang : 10 karung = 800 karung/ha
-Pupuk Urea : ½ Kg = 40 Kg/ha
-Pupuk NPK : 1 Kg = 80 Kg/ha

V. TEKNIK BUDIDAYA (SPESIFIK LOKALITA)
5.1. Pengolahan Lahan
Pengolahan tanah pertama, tanah dicangkul atau dibajak dengan kedalaman 20 – 30 cm dan dibiarkan selama 7 – 10 hari.
5.2. Pembentukan Bedengan
Setelah pengolahan tanah pertama dilanjutkan pengolahan tanah kedua yang sekaligus dihaluskan dan diratakan, kemudian ditaburkan pupuk kandang dan NPK. Pembentukan bedengan untuk tanaman kangkung dapat dilakukan dengan ukuran lebar 4 m, panjang 30m, tinggi bedengan 15-20 cm dan jarak antar bedengan 40 – 50 cm dengan membuat selokan. Ukuran tersebut dapat disesuaikan, tergantung keadaan lahan yang tersedia. Bedengan dibuat untuk kelancaran pemasukan dan pembuangan air yang berlebih serta untuk memudahkan pemeliharaan dan kegiatan lain. Bedengan ukuran diatas adalah yang selalu dilakukan petani.
5.3. Pemupukan
Pemupukan bagi tanaman kangkung terdiri dari pupuk dasar yaitu pupuk kandang dan NPK, yang diberikan seminggu sebelum tanam (setelah selesai pembuatan bedengan). Pupuk urea diberikan umur 14 – 15 hari atau 2 minggu setelah tanam. Pemberian pupuk urea dicampur dengan air kemudian disiram pada pangkal tanaman dengan ember penyiram, dilakukan pada sore hari.

5.4. Lain-lain
Agar tanaman kangkung dapat berproduksi secara memuaskan, perlu dilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kacang tanah, kacang hijau, kacang buncis, kecipir atau ketimun. Namun yang selalu dilakukan petani adalah setelah kangkung ditanam bayam atau sawi, kemudian bayam atau sawi lagi, lalu kemudian ditanam lagi kangkung dan penanaman kangkung rotasi keempat ini tidak diberi pupuk, dan ini merupakan keuntungan bagi petani.

5.5. Teknik Penanaman
5.5.1. Penentuan Pola Tanam
Penentuan pola tanam dapat disesuaikan dengan luas lahan yang akan ditanami. Apabila bedengan dibuat dengan ukuran 4 x 30m, maka bila jarak tanamnya ditentukan 10×10 cm, maka dalam satu bedengan terdapat sebanyak 12 ribu lubang atau 15 ribu rumpun kangkung.
5.5.2. Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan dengan cara ditugal, yang berjarak 10×10 cm, sedalam ± 5 cm. Setiap lobang didisi 3 – 4 biji, kemudian lobang ditutup dengan cara disapu, lalu disiram. Setelah 3 hari siap ditanam benih akan tumbuh.
5.5.3. Cara Penanaman
Penanaman kangkung darat dilakukan pada sore hari yaitu jam 16.00 sampai 18.00. Hal ini bertujuan agar benih setelah ditanam tidak langsung mendapat udara kering sehingga benih cepat berkecambah.

5.6. Pemeliharaan Tanaman
5.6.1. Penyiangan
Penyiangan dilakukan bila terdapat rumput liar (tanaman pengganggu). Penyiangan dilakukan setiap 2 minggu.
5.6.2. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk urea. Pupuk urea diberikan hanya sekali dengan cara dilarutkan dalam air lalu disiram pada tanaman kangkung. Perlu diperhatikan agar pada waktu menebar pupuk jangan sampai ada butir pupuk yang tersangkut atau menempel pada daun, sebab akan menyebabkan daun menjadi layu. Untuk itu setelah dipupuk harus disiram.
5.6.3. Pengairan dan Penyiraman
Selama tidak ada hujan, perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman gunanya untuk mencegah tanaman kangkung terhadap kekeringan. Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi (jam 07.00) dan sore (jam 17.00). Penyiraman dilakukan dengan gembor penyiram. Tanaman kangkung membutuhkan banyak air dalam pertumbuhannya.

5.7. Hama dan Penyakit
5.7.1. Hama
Hama yang banyak menyerang tanaman kangkung umumnya relatif tidak ganas, antara lain: belalang dan ulat daun. Pengendalian: untuk mencegah terjadi over populasi, semprotkan Sevin atau sejenisnya. Untuk memberantas ulat daun ini digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan dosis sebesar 2 cc per liter air dan disemprotkan pada tanaman. Pada waktu membasmi hama, sebaiknya lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4-5 hari. Kemudian diairi kembali.
5.7.2. Penyakit
Tanaman kangkung tahan terhadap penyakit dan hanya memerlukan sedikit perlindungan.
Penyakit jamur yang lazim menyerang tanaman kangkung adalah karat putih (Albugo Ipomoea panduratae). Penyakit ini peka terhadap Dithane M-45 atau Benlate, tetapi bila benih diperlakukan dengan penyiraman dan higiene umumnya baik, penyakit tidak menjadi masalah. Serangga pemakan daun dikendalikan dengan penyemprotan strategis senyawa organofosfat jauh sebelum pemanenan.

5.8. Panen
5.8.1. Ciri dan Umur Panen
Panen pertama sudah bisa dilakukan pada hari ke 23 – 25 setelah tanam. Saat ini kangkung sudah tumbuh dengan panjang batang kira-kira 20-25 cm lebih. Ada pula yang mulai memangkas sesudah berumur 1,5 bulan dari saat penanaman.
5.8.2. Cara Panen
Waktu panen dilakukan pada sore hari, pemungutan hasil kangkung darat dilakukan dengan cara mencabutnya sampai akar, kemudian dicuci dalam air. Panen kangkung darat dilakukan pada umur 23 – 25 hari. Selama panen, lahan penanaman harus tetap basah tapi tidak berair (lembab).
5.8.3. Prakiraan Produksi
Pertanaman kangkung secara komersial menghasilkan sekitar 500 ikat untuk ukuran bedengan 4 x 30m sekali periode tanam.

5.9. Pascapanen
5.9.1. Pengumpulan
Kangkung yang baru dipanen dikumpulkan dan kemudian disatukan sebanyak 15-20 batang kangkung dalam satu ikatan.
5.9.2 Penyimpanan
Dalam penyimpanan (sebelum dipasarkan), agar tidak cepat layu, kangkung yang telah diikat dicelupkan dalam air tawar dan ditutup dengan daun pisang.

Gambar petani membajak lahan dan
tanaman kangkung menjelang panen.

VI. ANALISA USAHA TANI KANGKUNG
Biaya yang dikeluarkan selama satu periode tanam lebih kurang 25 hari dengan luas bedengan ukuran 4×30 m2 (120m2) :
A. Pengeluaran
Pengolahan tanah pertama : Rp 50.000,00
Pengolahan tanah kedua dan pembuatan bedengan: Rp 25.000,00
Upah tugal : Rp 10.000,00
Upah tanam : Rp 20.000,00
Pembelian benih (2 Kg) : Rp 56.000,00
Pembelian pupuk
a. Pupuk kandang (10 karung) : Rp 80.000,00
b. NPK (1 Kg) : Rp 5.500,00
c. Urea (1/2 Kg) : Rp 1.500,00
Penyiangan : Rp 20.000,00
Upah cabut / panen (500 ikat) : Rp 50.000,00
Total : Rp318.000,00
B. Pemasukan
Hasil panen (500 ikat) @800 rupiah : Rp400.000,00
C. Keuntungan
Untuk sekali periode panen : Rp 82.000,00
Untuk perhitungan per hektar, tinggal dikalikan 80.
Menurut petani, untuk penanaman pertama kali dari tanaman kangkung memang keuntungan diperoleh sangat sedikit, bahkan terkadang hanya kembali modal saja, namun pada penanaman berikutnya yang dilanjutkan dengan bayam atau sawi kemudian ditanami sawi lagi, petani sangat sedikit sekali menggunakan pupuk, bahkan pada penanaman kangkung rotasi keempat petani tidak mengunakan pupuk sama sekali. Berikut ini gambaran rotasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: