BUDIDAYA AYAM BURAS

BUDIDAYA AYAM BURAS

TERNAK UNGGAS
Unggas secara umum dapat dikatakan sebagai ternak bersayap yang dalam taksonomi zoologinya tergolong dalam kelas Aves jenis unggas cukup banyak, di antaranya adalah ayam, itik, kalkun, dan angsa. Secara taksonomi zoologi bangsa burung bisa digolongkan sebagai unggas, tetapi sampai saat ini yang tercantum dalam undang-undang pokok kehewanan, bangsa burung masih belum digolongkan ternak unggas. Hal ini karena dalam undang-undang tersebut masih dibatasi dengan syarat tertentu, yaitu masih diberlakukannya bahwa yang dimaksud sebagai unggas adalah ternak bersayap yang sudah lazim dipelihara oleh masyarakat.
Berkembangnya teknologi dan kebutuhan masyarakat tidak menutup kemungkinan di masa mendatang bangsa burung masuk dalam jenis unggas karena burung secara taksonomi zoologi juga masuk dalam kelas Aves. Selain itu, burung juga mempunyai ciri-ciri seperti unggas. Disisi lain, bebarapa bangsa burung, seperti puyuh, merpati, dan parkit juga mulai dilirik masyarakat untuk diternakan guna diambil manfaatnya atau untuk bisnis.

Ciri-ciri dari ternak unggas secara umum adalah bersayap tubuhnya tertutup bulu, berparuh, berdarah panas dengan suhu tubuh 40-420 C, kulit kering dan tidak mempunyai kelenjar keringat, serta berkembang biak dengan cara bertelur.
A. Ayam Buras
Ayam buras adalah jenis ayam lokal (Indonesia), masih alami, dan belum mengalami perubahan mutu genetis. Ayam buras disebut juga dengan ayam lokal dengan tujuan untuk membedakan dengan ayam ras. Dibeberapa daerah, ayam lokal dikembangkan masyarakat sehingga memiliki karakteristik yang relatif homogen, baik bentuk tubuh maupun wana bulu. Ayam-ayam tersebut pun diberi nama berdasarkan nama daerah atau nama tertentu, contohnya ayam kampung, ayam kedu, dan ayam nunukan. Sementara karakteristik ayam lokal yang dipelihara oleh sebagian besar masyarakat di pedesaan masih alami, bentuk tubuh maupun warna bulu sangat beragam, dan biasanya disebut ayam kampung.
Keunggulan ayam buras (ayam lokal) dibandingkan ayam ras sebagai berikut.
– daya tahan tubuhnya relatif tinggi
– adaptasinya terhadap lingkungan di Indonesia relatif baik.
– Daging dan telurnya mempunyai rasa yang khas, guri, dan disukai masyarakat.
– Harga jual daging dan telurnya lebih mahal dari pada ayam ras. Taksonomi ayam buras sama dengan ayam ras.

Ayam buras. Memiliki cita rasa daging dan telur yang khas.

B. Bangsa – Bangsa
Bangsa-bangsa ayam kampung sampai saat ini tidak diketahui dengan pasti, tetapi ayam huta (Gallus varius Linnaeus) diperkirakan sebagai nenek moyang ayam kampung. Hal ini terlihat dari sifat-sifat dan morfologi ayam kampung yang mempunyai kemiripan dengan ayam hutan. Warna bulu ayam kampung sangat beragam, yaitu mulai dari hitam, putih, kekuningan, kecoklatan, merah tua, atau kombinasi dari warna-warna tersebut.
C. Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit ayam kampung secara umum juga sama dengan ayam ras, yaitu dipilih bibit dari induk yang mempunyai kemampuan produksi tinggi, misalnya dari kemampuan bertelurya; sifat tumbuhnya; dan secara eksterior tampak sehat, lincah, tidak cacat, mata cerah, tidak ada kotoran yang menempel di dubur, serta bulu tampak baik dan mengembang.

Bibit ayam kampung. Sebaiknya dipilih yang seragam, tidak cacat, dan sehat.

D. Perkandangan
Perkandangan untuk pemeliharaan ayam kampung sangat tergantung dari cara pemeliharaan itu sendiri. Pemeliharaan ayam secara ekstensif atau dilepas hanya memerlukan jenis perkandangan yang seadanya. Kandang hanya berfungsi untuk tidur pada malam hari. Jenis kandang untuk pemeliharaan secara semiintensif dibuat lebih baik dari kandang untuk pemeliharaan secara ekstensif karena selain untuk tidur pada malam hari, kandang juga digunakan untuk melakukan sebagian dari aktivitas. Sementara kandang untuk pemeliharaan ayam kampung secara intensif perlu mendapat perhatian khusus. Kandang dapat dibuat seperti pada kandang ayam ras karena pada pemeliharaan secara intensif, ayam kampung akan dipelihara secara terus-menerus didalam kandang sehingga kandang

Kandang ayam kampung petelur. Umumnya berupa kandang baterai berbahan bambu

Berfungsi sebagai tempat tinggal, aktivitas makan, minum, istirahat, dan berprodukisi. Sistem kandang yang digunakan bisa sama degnan sistem-sistem kandang yam ras petelur, yaitu sistem liter dan sistem sangkar. Kepadatan kandang juga perlu diperhatikan (tabel ).

TABEL : KEPADATAN KANDANG UNTJUK AYAM KAMPUNG

Kelompok Ayam Kampung Tingkat Kepadatan
Anak ayam 25 – 28 ekor/m2
Ayam dara 14 – 16 ekor/m2
Ayam berproduksi/ bertelur 6 – 7 ekor/m2

Pengunaan wadah pakan dan minum juga sama dengan ayam petelur. Penempagtan wadah pakan dan wadah minum juga sama, yaitu ditempatkan secara berdekatan.

E. Tata Laksana Pemeliharaan
Pemeliharaan ayam kampung dapat dilakukan secara ekstensif dan intensif. Pemeliharaan secara ekstensif adalah pemeliharaan dengan cara dilepas dan ayam dibiarkan berkeliaran mencari pakan sendiri. Pemeliharaan ini menghasilkan produksi yang rendah. Sementara pemeliharaan secara intensif yaitu dengan cara mengadangkan ayam. Kebutuhan ayam seperti pakan dan minum harus disediakan hasilnya, menunjukan angka peningkatan produksi. Pada pemiliharaan secara tradisional, produksi telur rata-rata 30-40 butir per tahun. Sementara dngan pemeliharaan intensif dapat meningka menjadi 163 butir per 200 hari.

Pemeliharaan ayam kampung. Sistem intensif lebih efisien dibandingkan sistem ekstensif.

F. Pemberian Pakan
Pada pemeliharaan ayam kampung secara intensif, pemberian pakan dapat dilakukan seperti pada ayam ras petelur. Namun, karena

Pemberian pakan. Agar tidak acak – acakan, bisa ditempatkan dalam setengah lingkaran pipa PVC

Pemberian pakan. Agar tidak acak-acakan, bisa ditempatkan dalam setengah lingkaran pipa PVC.
Kemampuan produksi ayam kampung terbatas, tidak seperti ayam ras petelur, pemberian pakanya bisa dicampur sendiri. Bahan pakan yang digunakan antara lain jagung giling, bekatul, dan konsentrat jadi.
Konversi pakan pada ayam kampung sekitar 4,9. pemberian pakan dibedakan dalam pakan starter, grower, dan layer. Selain hasil ramuan sendiri, pakan yang diberikan pada ayam pedaging juga bisa berupa pakan jadi.

TABEL KONSUMSI PAKAN AYAM KAMPUNG DEWASA PER EKOR PER HARI

Kelompok Umur Konsumsi Pakan (g/ekor/hari)
Minggu ke 1 – 3 30
Minggu ke 3 – 6 60
Minggu ke 6 – menjelang bertelur 80

G. Pembibitan Ayam Kampung
Pembibitan ayam kampung tidak seperti ayam ras – yang dilakukan oleh breeding farm. Pembibitan ayam kampung dilakukan secara almi oleh induk yang menetaskan telurnya sendiri atau secara penetasan buatan dengan menggunakan mesin tetas oleh peternak atau pengusaha peternakan. Lama penetasan terlur ayam kampung sekitar 18 hari. Cara penetasan sama dengan ayam ras.

H. Pemeliharaan Kesehatan
Pemeliharaan kesehatan pada ayam kampung juga tidak jauh berbeda dengan ayam ras, yaitu melalui program pembersihan kandang, perlengkapannya, dan lingkungan; sanitas; serta hapus hama kandang, penykit yang sering menyerang ayam kampung yaitu new castle deseases (ND), cronic respiratory deseases (CRD), dan cacar.
Hal – hal yang dapat dilakukan dalam pencegahan penyakit pada yam kampung sebagai berikut.
a. Hindarkan anak ayam dari perubahan cuaca buruk pada saat penggantian cuaca, anak ayam dapat diberi tambahan vitamin karena pada kondisi ini , anak ayam mudah terserang penyakit.
b. Lakukan vaksinasi ND secara teratur
c. Berikan pakan yang cukup dan berkualitas
d. Jaga kebersihan, perlengkapan, dan lingkungan kandang.
e. Berikan obat bila perlu saja.
f. Berikan obat cacing dan antibiotik secara berkala.

I. Panen Dan Hasil Panen
Hasil panen ayam kampung berupa telur dan daging. Dibandingkan ayam ras, telur dan daging ayam kampung punya rasa yang lebih khas dan lebih disukai oleh konsumen. Produksi daging ayam kampung dapat dilakukan pada ayam dara atau ayam dara apkir. Ayam kampung bisa dijual dalam keadaan hidup atau karkas.

Telur ayam kampung. Secara turun – temurun digunakan sebagai bahan jamu untuk menjaga kesehatan.
onmousedown=’return false’.

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    edi yanto said,

    agar lebih di publikasikan lebih luas lagi web ini,agar mempermudah penyampaiyan informasi ke tingkat petani


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: