Budidaya Sapi Bali

BUDIDAYA SAPI BALI

I. PENDAHULUAN
Kecamatan Gunung Sahilan merupakan daerah yang cukup ideal untuk pengembangan Agribisnis Sapi Bali karena didukung oleh beberapa faktor antara lain:
1. Dukungan Suberdaya Alam : agro-ekosistem didominasi oleh lahan kering termasuk termasuk lahan tidur, polowijo, holtilkultura dan kebun sawit sehingga mencukupi akan kebutuhan rumput (pakan), belumlagi potensi dari segi limbah pabrik tahu serta pabrik kelapa sawit sebagai sumber pakan utama dan pakan penguat.
2. Dukungan Sumberdaya Ternak : dalam perjalanan waktu hampir 30 tahun sapi Bali tetap eksist di Kec. Gunung Sahilan. Hal ini menunjukkan bahwa sapi Bali sudah sesuai atau cocok (adaptif) dengan kondisi agro ekosistem di Kec. Gunung Sahilan.

3. Dukungan Sumberdaya Manusia : secara tradisional ternak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem usaha tani dan tidak terpisahkan dengan kehidupanpetani. Perilaku seperti ini tidak lepas dari tujuan petani memelihara sapi yaitu sebagai tabungan (yang paling utama), sebagai tenaga kerja pengolahan lahan, sebagai sumber penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari, untuk biaya naik haji dan sebagai sumber penghasilan setengah tahunan (penggemukan) serta alasan-alasan lainnya.
4. Permintaan Pasar: pasar untuk sapi sangat baik, permintaan dari dalam maupun dari luar daerah terus meningkat. Pemotongan ternak menunjukkan peningkatan, baik untuk kegiatan hajatan, hari besar agama dan keperluan pasar.
5. Peternakan Rakyat: sifat dari pemeliharaan ternak sapi di Gunung Sahilan, kebun Durian dan Subarak pada umumnya dilepas dan di gembalakan tetapi di desa Makmur Sejahtera, Suka Makmur, Gunung Sari dan Gunung Mulya secara khususnya adalah peternakan rakyat yang dikembangkan bersifat usaha sambilan, dengan kepemilikan rata-rata 2-3 ekor/orang dan di kandangkan.

Cara mengenali sapi Bali dengan ciri-ciri sebagai berikut :
• Warna bulunya pada badannya akan berubah sesuai usia dan jenis kelaminnya, sehingga termasuk hewan dimoprhism-sex. Pada saat masih “pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan, setelah dewasa Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin sejak umur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus pada umur 3 tahun. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri, yang disebabkan pengaruh hormon testosterone
• Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu yang coklat (merupakan bintik-bintik putih) yang merupakan kekecualian atau penyimpangan ditemukan sekitar kurang dari 1% . Bulu sapi Bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan mengkilap.
• Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang.
• Kepala agak pendek dengan dahi datar
• Badan padat dengan dada yang dalam.
• Tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir
• Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau.
• Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
• Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam
• Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina tumbuh ke bagian dalam.
Sapi Bali termasuk jenis yang disukai oleh para peternak karena dwiguna, bisa sebagai sapi pekerja juga sapi pedaging, serta mempunyai banyak keunggulan seperti :
• Subur (cepat berkembang biak/ fertilitas tinggi)
• Mudah beradaptasi dengan lingkungannya,
• Dapat hidup di lahan kritis.
• Mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan.
• Persentase karkas yang tinggi.
• Harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat.
• Khusus sapi bali Nusa Penida, selain bebas empat macam penyakit, yaitu jembrana, penyakit mulut dan kuku, antraks, serta MCF (Malignant Catarrhal Fever). Sapi Nusa Penida juga dapat menghasilkan vaksin penyakit jembrana.
• Kandungan lemak karkas rendah.
• Keempukan daging tidak kalah dengan daging impor.

II. MEMILIH BAKALAN
Memilih bakalan yang tepat untuk digemukkan merupakan langkah awal yang sangat menentukan bagi keberhasilan usaha penggemukan sapi.
Beberapa kriteria sapi bakalan adalah:
• Sapi jantan
• Umur > 2,5 tahun (Minimal Gigi Tetap 2 Pasang)
• Memenuhi tanda sapi Bali Normal
• Sehat/tidak sakit, tenang,tidak mudah terkejut dan tidak liar
• Tidak cacat
• Tulang/rangka besar
• Kepala pendek/persegi
• Leher pendek
• Kurus tapi sehat (tidak sakit)
• Akan lebih baik kalau mengetahui Bapaknya (dari keturunan yang baik)
• Nafsu makan tinggi

Contoh Bakalan untuk penggemukan

III. PENDUGAAN UMUR

Untuk mengetahui umur sapi dapat menggunakan pendekatan pergantian gigi. Pada prinsipnya taksiran umur dengan metode gigi sapi adalah memperhitungkan pertumbuhan, penggantian dan keausan gigi sapi. Pertumbuhan gigi sapi sendiri terbagi tiga periode yakni periode gigi susu, periode penggantian gigi susu menjadi gigi tetap serta periode keausan gigi tetap.
1. Sapi yang memiliki gigi susu semua pada rahang bawah, mempunyai usia sekitar 1 tahun

Umur 1 tahun
2. Sapi yang memiliki gigi tetap sepasang pada rahang bawah mempunyai usia sekitar 1-1,5 tahun

Umur 1,5-2 tahun

3. Sapi yang memiliki gigi tetap dua pasang pada rahang bawah mempunyai usia sekitar 2-2,5 tahun

Umur 2-2,5 tahun

4. Sapi yang memiliki gigi tetap tiga pasang pada rahang bawah mempunyai usia sekitar 3-3,5 tahun

Umur 3-3,5 tahun

5. Sapi yang memiliki gigi tetap empat pasang pada rahang bawah mempunyai usia sekitar 4 tahun

Umur 4 tahun
6. Sapi yang memiliki gigi tetap sudah aus semua pada rahang bawah mempunyai usia diatas 4 tahun.

Umur lebih dari 4 tahun

IV. MANAJEMEN PAKAN
Penyediaan
a. Yang paling tradisional adalah ambil dari alam dan kebun (ngarit, menyabit rumput)
b. Paling dianjurkan adalah menanam.
Salah satu teknologinya adalah dengan Sistem Tiga Strata (3S) yaitu :
Strata pertama: dengan menanam rumput-rumputan ( Rumput Setaria, Rumput Raja, Rumput Gajah dan lain-lain yang digunakan untuk penyediaan pakan musim hujan (Desember – Mei).
Strata kedua : dengan menanam hijauan semak atau pohon kecil seperti Gamal, Lamtoro, Turi, Banten, Kelor dan lain-lain. Digunakan untuk pakan di musim pertengahan (Juni – September).
Strata ketiga: dengan menanam hijauan pohon seperti Nangka, Waru, Beringin dan lain-lain. Digunakan pada puncak musim kemarau (Oktober-November)

c. Memanfaatkan limbah pertanian (Jerami, jagung, batang dan kulit, kacang-kacangan dll), limbah industri (dedak padi, ampas tahu, bungkil kelapa dll).
Sumber gizi atau nutrisi yang dibutuhkan ternak bersumber dari : Hijauan (rumput, legum,daun-daunan), limbah tanaman (jerami jagung), limbah industri (dedak padi, ampas tahu,), ransum jadi/pabrik.

Contoh rumput untuk pakan di musim hujan

Rumput Setaria

Rumput Clitoria

Contoh beberapa tanaman semak/ pohon kecil untuk pakan

Turi

Gamal

Kelor

Lamtoro

V. KEBUTUHAN PAKAN (NUTRISI)

Kandungan Protein Kasar (PK) pada pakan untuk sapi yang digemukkan sekitar 10 % dari komposisi pakan, dan Energi sekitar 50% dari Bahan Kering pakan.

Pemberian :
1. Macamnya (rumput- rumputan, daunan, kacang-kacangan, konsentrat, pakan tambahan/suplemen,probiotik )
2. Kandungan Protein pakan sekitar 10%, diperoleh dari Hijauan (Gamal,Rumput Gajah,dll), makanan Penguat seperti dedak,ampas tahu,dll.
3. Jumlahnya (Hijauan minimal 10 – 15 % dari Berat Badan (BB) + Pakan penguat 1-2% BB + Pakan Tambahan/probiotik/UMB).
4. Porsi Rumput : Legum = 60 : 40 % atau 75 : 25 % tergantung dari ketersediaan legum. Artinya kalau berat badan awal 200 kg, perkiraan kebutuhan hijauan 10 -15 % dari BB, maka diperlukan 20 – 30 kg hijauan terdiri dari 12 – 18 kg rumput + 8 – 12 kg legum/ekor/hari atau 15 – 22,5 kg rumput + 5 – 7,5 kg legum/ekor/hari.
5. Pemberian pakan penguat/konsentrat (seperti Dedak padi, Ampas tahu dll) sekitar 1 – 2 % dari BB, artinya 2 – 4 kg/ekor/hari
6. Pemberian pakan pelengkap (probiotik, sumber mineral/Urea Molases Blok/Urea Mineral Molases Blok) tergantung jenis produknya. Untuk beberapa merk probiotik biasanya cukup dengan 1 sendok makan per ekor per hari.
7. Frequensi pemberian, makin sering makin baik (2 – 3 kali sehari semalam). Hindari pemberian sekaligus karena akan banyak tersisa/terbuang.

VI. PERKANDANGAN
• Untuk penggemukan prinsipnya bagaimana supaya ternak tidak banyak bergerak ,
• kandang tidak perlu luas, cukup 1,15m x 2 m per ekor
• Lantai miring ke belakang
• Harus ada tempat pakan (prako)
• Harus selalu dalam keadaan bersih, tidak lembab.
• Kotoran dibersihkan/kumpulkan untuk kompos.
• Drainase sekitar kandang harus baik, tidak boleh ada genangan air sehingga kandang
• tidak lembab
• Ventilasi cukup untuk pencahayaan yang baik

Contoh Gambar Kandang

VII. PEMELIHARAAN KESEHATAN
1. Diduga bahwa hampir semua sapi yang dipelihara secara tradisional pada kondisi petani sudah terserang penyakit cacingan. Oleh karenanya disarankan pada awal penggemukan agar sapi bakalan diberikan obat cacing, kemudian diulang kembali setiap 3 – 4 bulan .
2. Pemberian vitamin setiap tiga bulan atau sesuai keperluan misalnya pada saat pergantian musim.
3. Kandang harus dibersihkan setiap hari, tidak becek, tidak ada genangan air.
4. Sebaiknya dimandikan sambil badannya digosok-gosok.
5. Bila ternak sakit segera hubungi petugas kesehatan hewan atau dokter hewan terdekat
6. Mencegah lebih baik daripada mengobati

VIII. LAMA PENGGEMUKAN
1. Untuk sapi Bali di tingkat petani umumnya penggemukan dilakukan selama 4 bulan, 6 bulan , 12 bulan bahkan ada yang lebih lama tergantung besarnya bakalan dan target yang ingin dicapai oleh peternak. Dalam hal ini dianjurkan paling lama 6 bulan saja.
2. Pertambahan Berat Badan Harian (PBBH) pada sapi Bali antara 0,4 – 0,8 kg/ekor/hari atau rata-rata 0,5 kg/ekor/hari, meskipun di tingkat petani lebih banyak yang kurang dari 0,4 kg/ekor/hari.
3. Dengan demikian kalau diambil angka rata-rata 0,5 kg/ekor/hari maka penggemukan selama 4 bulan (120 hari) akan mendapatkan Pertambahan Berat Badan sebanyak 60 kg/ekor, 6 bulan (180 hari) tambahan berat badan 90 kg dan 12 bulan tambahan 180 kg/ekor.
4. Menduga bobot badan sapi Bali Mengetahui bobot badan sapi paling akurat menggunakan timbangan, namun demikian jika tidak ada timbangan dapat dilakukan dengan mengukur “Lingkar Dada” menggunakan pita ukur.

Caranya: ukur lingkar dada sapi (posisi dibelakang kaki depan) dengan tali ukur (meteran kain), kemudian cocokkan dengan tabel yang ada seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

IX. PEMBUATAN KOMPOS
Tempat:
Siapkan tempat yang dinaungi/bangunan sederhana atau permanent untuk tempat proses pembuatan kompos agar terhindar dari hujan dan sinar matahari langsung.
Ukuran tergantung kebutuhan dan tempat, misalnya luas 3 m x 12 m, dengan perincian seperti gambar di bawah ini:

Bak 1/Kolom 1 dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi 3mx3mx1m merupakan tempat untuk menimbun dan mentiriskan kotoran sapi yang basah.
Bak 2 sampai bak 5/Kolom 2 sampai kolom 5 dengan ukuran panjang, lebar dan tinggi 3mx1,5mx1 m merupakan tempat mencampur bahan kompos.
Bak 6/Kolom 6 dengan ukuran yang sama dengan bak/kolom 1 merupakan tempat menimbun kompos yang sudah matang/jadi, dan siap dignakan atau dikemas.

Bahan ;
Misalnya untuk campuran 1 ton bahan rinciannya sbb:
a. Kotoran sapi kadar air 60 % : 80 bagian atau sekitar 825 kg
b. Abu sekam : 10 bagian atau sekitar 100 kg
c. Serbuk gergaji : 5 bagian atau sekitar 50 kg
d. Kapur bangunan : 2 bagian atau sekitar 20 kg
e. Pemacu MO/dekomposer/Stardec : 0,25 bagian atau ekitar 2,5kg

Alat :
a. Cangkul
b. Sekop
c. Masker
d. Sepatu boot
e. Kereta dorong
f. Ayakan/penyaring

Cara Menbuat ;
a. Kumpulkan/timbun kotoran basah pada bak 1 selama sekitar seminggu sampai kandungan air sekitar 60%.
b. Siapkan bahan-bahan lainnya: abu sekam, serbuk gergaji, kapur bangunan dan stardec sesuai porsi yang telah ditentukan.
c. Masing-masing bahan dibagi menjadi 4 – 5 bagian.
d. Campur merata semua bahan pada bak ke 2 misalnya pada hari Minggu dengan cara, ¼ atau 1/5 bagian pertama kotoran sapi dimasukkan pada bak 2, diikuti oleh ¼ atau 1/5 bagian pertama dari Stardec, abu sekam, serbuk gergaji dan kapur. Diikuti lapis kedua dengan urutan yang sama yaitu kotoran sapi,stardec, abu sekam serbuk gergaji dan kapur , demikian seterusnya sampai lapis ke 4 atau ke 5 hingga semua bahan habis.
e. Seminggu kemudian/minggu ke dua pada hari Minggu, bahan pada bak 2 dipindahkan ke bak ke 3 menggunakan cangkul dan sekop. Pada saat ini suhu bahan cukup tinggi mencapai 70 derajat C sampai akhir minggu ke dua.Sementara bak ke 2 yang sudah kosong diisi lagi dengan bahan yang sama dengan cara yang sama.

f. Seminggu kemudian bahan di bak ke 3 dipindah ke bak ke 4, bahan di bak ke 2 di pindah ke bak ke 3, demikian seterusnya sampai akhir minggu ke 4 atau bahan yang berada di bak ke 5 sudah matang/jadi dan siap diaplikasikan atau dikemas.

g. Tanda-tanda kompos yang sudah matang/jadi adalah:
(1). Warna coklat kehitaman,
(2). Tidak bau,
(3). Tidak panas.

h. Kompos yang sudah matang ditimbun pada bak ke 6. Untuk menjaga kualitas, sebaiknya dilakukan penyaringan dengan ayakan tukang bangunan agar terbebas dari bahan yang tidak bermanfaat misal tali rafia, plastik dll .

Cara yang lebih sederhana:
1. Timbun kotoran segar campur dengan sisa-sisa makanan (tidak memakai formula diatas), tunggu selama satu minggu.
2. Dari bahan campuran di atas, misal sebanyak 1 ton, dicampur dengan kapur 20 kg (untuk menetralkan keasaman), dekomposer (stardec, EM4 dll) 2,5 kg, kemudian ditutup dengan terpal/dinaungi.
3. Seminggu kemudian diaduk merata, demikian seterusnya seminggu sekali diaduk sampai masuk minggu ke empat. Di akhir minggu keempat kompos sudah jadi/matang, siap digunakan.

Contoh gambar kompos

X. ANALISIS USAHA PENGGEMUKAN SAPI BALI

DATA PENGGEMUKAN:
a. Lama penggemukan : 6 bulan (180 hari )
b. Bakalan : Sapi Bali jantan, umur sekitar 2 tahun,berat sekitar 200kg
c. Pertambahan Berat Badan Harian : 0,5 kg/hari
d. Jenis pakan : Rumput sekitar 10 % dari Berat Badan per ekor per hari dan Dedak padi sekitar 1 kg/ekor/hari
e. Biaya pembuatan kandang Rp. 2.500.000, umur teknis 10 tahun (120 bulan, dapat digunakan untuk 20 kali periode penggemukan)
f. Harga berat hidup sapi : Rp. 30.000,-/kg berat hidup
g. Harga rumput : Rp.250,-/kg
h. Harga dedak padi : Rp. 1000,-/kg
i. Tenaga Kerja : Rp. 5000/hari (kerja efektif sekitar 1,5 jam untuk memberi makan dan membersihkan kandang)

ANALISA USAHA PER SATU PERIODE PENGGEMUKAN (6 bulan)

1. Biaya Tetap
a. Biaya kandang : 1/20 x Rp. 2.500.000,- = Rp. 125.000,-
b. Harga sapi Bakalan = Rp.6.000.000,-
c. Jumlah = Rp.6.125.000,-

2. Biaya tidak tetap
a. Biaya Rumput : 180 hr x 20 kg x Rp.250,- =Rp 900.000,-
b. Biaya dedak padi : 180 hr x 1 kg x Rp.1000,- =Rp. 180.000,-
c. Biaya Tenaga Kerja: 180 hr x Rp. 5000,- =Rp. 900.000,-
d. Obat-obatan =Rp. 25.000,-
e. Biaya lain-lain =Rp. 50.000,-
f. Jumlah =Rp.2.055.000,-

3. Produksi/Hasil
a. Pertambahan Berat Badan : 180 hr x 0,5 kg: = 90 kg 90kg x Rp.30.000,- = Rp.2. 700.000,-
b. Harga Jual Sapi = Rp.8. 700.000,-
c. Produksi pupuk kotoran sapi: 180 harix10 kgx60% 1080 kg x Rp. 250,- = Rp. 270.000,-
d. Jumlah Pendapatan = Rp.8. 970.000,-

4. Keuntungan Selama 6 bulan
Harga Jual – Biaya Tetap – Biaya Tidak Tetap
= Rp. 8.970.000 – Rp.6.125.000 – Rp.2.055.000,- = Rp. 790.000,-

Catatan : Jika mencari rumput dan memelihara dilakukan oleh petani, maka Uang yang
diterima petani adalah dari pembayaran rumput + upah tenaga kerja + keuntungan
= Rp.900.000 + Rp.900.000 + Rp.790.000 = Rp. 2.590.000,-

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: